PADANG, -Dengan pertimbangan tertentu, sisa berbahaya dari proses produksi semen sengaja dilepas ke udara, terutama pada malam hari. Hal ini berakibat pada mobil-mobil warga yang diparkir di tempat terbuka terpapar debu pada pagi hari.
Akibat dari debu ini beberapa kompleks perumahan warga sekitar dikompensasi dengan penggantian atap.
Namun yang tidak dipikirkan adalah kompensasi kerugian kesehatan karena menghirup udara beracun.
Setiap kali memproduksi satu ton semen, PT Semen Indonesia melepaskan 600 kg karbondioksida (CO2) ke langit Indarung, 400 kg dari batu kapur dan 200 kg dari proses pembakaran.
Seberapa banyak warga Indarung tahu dengan zat monster ini? Dalam konsentrasi pekat (di ruang tertutup) zat ini bisa menhadi pembunuh dengan silently, ketika ia menggusur konsentrasi oksigen. Sering kita baca bahwa zat ini merupakan biang keladi global warming.
Kalau sebagian warga Indarung yang peduli mulai mempertanyakan usia harapan hidup mereka, itu baru terjadi di era belakangan, ketika melek informasi sudah tak bisa dibendung.
Usia harapan hidup warga Indarung ada di bawah angka 65 tahun (mengutip seorang aktivis lingkungan lokal). Sangat masuk akal, karena kualitas hidup berkorelasi dengan kualitas lingkungan.
Dampak bertubi dari buruknya ekses kegiatan produksi semen dialami langsung oleh Lubuk Kilangan (Kelurahan Indarung, Baringin, Tarantang, Padang Besi, Batu Gadang).
Produksi semen pasti mencemarkan lingkungan, tidak akan bisa ditutup-tutupi dengan raihan sertifikat apa pun yang diraih dengan cara apa pun. Tahap demi tahap proses pembuatan semen memberikan dampak buruk pada lingkungan.
Mulai dari tahap eksplorasi bahan baku saja dia sudah menimbulkan kerugian. Maka tidak heran analisa dampak lingkungan sebelum sebuah pabrik semen berdiri dapat membantu memenangkan suatu komunitas di suatu wilayah untuk menyelamatkan lingkungannya.
Orang-orang di Lubuk Kilangan menatap setiap hari bagaimana alat-alat berat raksasa mengikis permukaan hutan ulayat mereka.
Karena untuk mendapatkan batu kapur Lubuk Kilangan Semen Indonesia harus melakukan penambangan. Proses pertama ini tidak punya pilihan, pasti mengubah gunung-gunung lekukan karst ulayat mereka, merusak ekosistem dan aliran air yang sudah terbentuk.
Orang-orang Lubuk Kilangan terus dipaksa menahan eskalasi ketidaknyamanan, ketika akibat perubahan hutan tersebut mereka harus melihat air bah datang meluluhlantakkan di musim hujan tiba dan sumber pengairan pertanian mereka menghilang di musim kemarau.
Pada Agustus 2019, delta karst Kelurahan Batu Gadang, Baringin, Tarantang dan Padang Besi mengalami kekeringan. Sawah-sawah tidak terairi, sumur-sumur warga kosong.
Kita merasa aneh, ada fakta penambangan massive pada bentukan karst batu kapur di hulu, ada fakta ikutannya berupa hilangnya kemampuan tanah menyerap air, sehingga menyebabkan banjir bandang rutin tiap musim hujan, ada lagi fakta ikutan lainnya berupa kekeringan di hilir bentukan karst pada kelurahan wilayah delta,
Namun tidak memunculkan suara para pemerhati lingkungan menarik korelasi di antara fakta-fakta tersebut, untuk memberikan rekomendasi peninjauan ulang izin penambangan Bukit Karang Putih di hulu.(**)
Langsung ke konten






