20250725 093040 1 768x197
Berita  

Mengenal Rinto Wiarta, Peraih Gelar Ph.D Kehutanan di Beijing China

Editor: Rosadi jamani

Dia satu almamater dengan saya. Sama-sama dosen UNU Kalbar. Cita-citanya tinggi, ingin melanjutkan S3 ke luar negeri. Apa yang dicita-citakannya tercapai. Ia pun meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) bidang kehutanan. Mari kita berkenalan dengan sang doktor sambil seruput liberika tanpa gula, wak!

Kalau hidupmu terasa berat karena tugas belum dikerjakan, dosen killer ngasih revisi tiga halaman, atau kamu malas masuk kelas jam 8 karena “cuaca mendung dan kasur bersahabat”, maka mari duduk sebentar dan baca kisah Dr.

Rinto Wiarta, Ph.D, seorang anak kampung yang kuliahnya tembus sampai ke Beijing, bukan buat liburan, tapi buat mengukir sejarah.

Bayangkan, wak! Ia lahir di Sungai Raya, Bengkayang, di ujung Kalimantan Barat yang peta digital saja kadang lupa meng-updat. Ia, anak bungsu dari lima bersaudara, anak seorang nelayan dan penjual kue keliling. Saat kamu ngeluh makan di warung padang terus, Rinto kecil justru bantu ibunya keliling kampung jualan dadar gulung, risoles, dan cucur, demi sesuap ilmu dan segenggam masa depan.

Jangan dikira hidupnya semulus kulit filter Instagram. Rinto kuliah S1 Manajemen Hutan di Universitas Tanjungpura sambil hidup sederhana ala mahasiswa kosan, lulus 2009. Lanjut S2 sambil kerja di perusahaan pengelola mangrove, siang ngurus tambak, malam ngurus tugas. Lulus 2016, dan masih belum puas. Cita-citanya tinggi, S3 luar negeri, meski waktu itu ia belum pernah naik pesawat lebih dari 3 jam.

Lalu, 2019, ia diterima kuliah di Beijing Forestry University. Tapi tunggu, jangan kira langsung meneliti. Sebelum menulis disertasi, dia harus belajar bahasa Mandarin satu tahun penuh. Coba nuan bayangkan, dari Bahasa Melayu Pontianak langsung loncat ke Hanzi! Itu ibarat disuruh main catur pakai aturan sabung ayam.

Belum sempat tenang, tahun 2020 pandemi COVID-19 melanda. Kuliah S3-nya terhenti dua tahun. Dua tahun! Sampeyan yang semester telat satu aja udah stres, apalagi kalau disetop dua tahun dan sendirian di negeri asing yang bahkan sambal saja tidak kenal. Tapi ia sabar. Ia tetap belajar, tetap riset, tetap menulis. Berkali-kali jurnalnya ditolak? Santai. Ayahnya juga sering pulang dari laut tanpa ikan. Tapi tetap berangkat besoknya. Ibunya? Tetap keliling jualan kue meski sering tak laku. Dari situ ia belajar, kegigihan bukan soal pintar, tapi soal tekun.

Akhirnya, ia menulis disertasi berjudul “The Dynamic of Mangrove Forests (1993–2023) in Kubu Raya District, Indonesia: Land Use, Fragmentation Pattern and Driving Factors.” Topiknya? Tentang mangrove kampung halamannya. Bukan riset yang asal-asalan, ini riset yang membawa tanah air ke tanah asing. Ia lulus, ia wisuda, 12 Juni 2025. Tapi bukan hanya toga yang ia bawa pulang, melainkan semangat dan cerita yang bikin hati tersentuh seperti drama Korea campur azab Indosiar.

Ia kembali ke UNU Kalbar, bukan sebagai dosen biasa. Tapi sebagai bukti hidup bahwa anak kampung bisa jadi doktor di negeri asing, bahwa mimpi bisa menembus salju, bahwa ilmu bukan monopoli orang kota.

Wahai mahasiswa yang skripsinya baru BAB II sejak 2022, bangunlah. Wahai dosen yang lagi S3 tapi semangatnya sempat hilang karena reviewer galak, lihatlah Rinto. Kalau dia bisa bertahan dua tahun ditunda, ditolak jurnal berkali-kali, disiksa musim dingin dan aksen Beijing, maka kita tidak punya alasan untuk menyerah.

Karena kalau anak penjual kue keliling bisa pulang bawa gelar doktor dari Beijing, maka takdir bukan lagi soal nasib, tapi soal tekad. Jika dunia suatu hari menulis sejarah tentang pahlawan pendidikan dari Kalimantan Barat, nama Rinto Wiarta akan terukir di antara akar-akar mangrove yang ia bela dengan pena dan cinta.

Sebagai sesama dosen dan teman, saya ucapkan tahniah. Gelar yang didapatkan penuh perjuangan dan ijazahnya dijamin asli. Segera aplikasikan ilmunya demi menjaga hutan di Kalbar tetap lestari. Sekali lagi tahniah buat sang doktor kehutanan.