Daerah  

Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyyah; Jika Lelaki Bisa, Kenapa Perempuan Tidak

PADANG, – Janganlah guru-guru mendendam murid-murid yang bersalah atau nakal. Janganlah membicarakan keburukan sikap dan kenakalan seseorang murid kepada murid lain.

Berusahalah memperbaiki sikap akhlak murid yang salah dan nakal itu. Kalau murid itu kurang cerdas atau malas, juga adalah tugas guru untuk mencarikan perbaikannya.”

 

Ya Pak KJ, saya sudah di Jakarta, sekarang sedang dikarantina oleh orang Istana, namun apa agenda, belum jelas,” kata Pimpinan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauzia Fauzan 9 November 2025.

 

Oh mungkin, Rahmah akan dapat gelar pahlawan nasional, namun tidak seorang pun bisa memastikan. Dan, ternyata benar, pada Ahad (10/11) Presiden Prabowo mengumumkannya. Dari tiga yang diusulkan, dikabulkan satu, yaitu untuk Rahmah.

 

Saya teringat kepingan riset saat akan menulis novel biografinya. Yang paling lekat dalam kepala ini: “Gunting kainmu agak sejengkal, kumpulkan, jahit dan jadikan baju!” Ini perintah Rahmah kepada murid-murid Diniyah Puteri ketika zaman Jepang. Rakyat memakai goni untuk baju. Ia juga memerintahkan, barangsiapa yang punya kain pintu, tak usah dulu dipakai tapi jadikan baju, sebab rakyat membutuhkannya. Selain itu, teringat perintah kepada muridnya setelah kemerdekaan, “Kalian semua, jangan memakai baju tembus pandang.”

 

Ingatan kolektif orang Minang, mungkin tersangkut di sini : Ketika Rahmah memimpin pengibaran Merah Putih pertama kali untuk Sumbar di halaman sekolahnya seusai kemerdekaan, rakyat mengikutinya, mencari kertas minyak dan memasangnya di pohon, di pucak rumah dan dimana saja asal ketinggian. Rakyat memang tak punya kain lagi. Pabrik kain Silungkang sudah tidak punya stok.

 

Tatkala TKR dibentuk di Padang, maka untuk Padang Panjang, tak ada yang bersedia jadi komandan, maka Rahmah maju. Dia komandan TKR wanita satu-satunya. Sekolahnya yang berdiri 1923, kemudian jadi dapur umum.

 

Hajjah Syekhah Rangkayo Rahmah el Yunusiyyah, pantas jadi pahlawan nasional. Ia membawa sejarah di pundaknya, mewariskan lembaga pendidikan yang berjaya sampai sekarang. Diusulkan ke pemerintah pusat pada 2011 dan terkabul 14 tahun kemudian, 2025. Sampai hari ini, ada tiga perempuan Minang jadi pahlawan, pertama murid Rahmah yaitu Rasuna Said diangkat pada 1974 dan Ruhana Kuddus pada 2019. Ketiga tokoh ini sudah saya tulis novel sejarahnya, saying buku Ruhana belum terbit. Yang segera terbit lagi, buku Rahmah oleh Elex Media, Gramedia Grup. Sejauh itu, pahlawan dari Sumbar tercatat 17 orang. Secara nasional terbanyak Jateng, Jatim, Jogja dan Sumbar. Daerah ini mengusulkan tiga tokoh, Rahmah, Chatib Sulaiman (2023) dan Inyiak Canduang (2022).

 

Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri pada Kamis, 1 November 1923, dengan murid 70 orang, tapi kemudian seorang murid bertanya, “masih boleh ditambah satu murid lagi?” Tambahannya itu seorang perempuan muda, yang sudah bercerai karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya. Dari 71 orang itu, ada satu nama, Rasuna Said.

 

Rafiah teringat saat kelahiran bayinya, Sabtu 20 Desember 1900, ayahnya, Muhammad Yunus al- Khalidiyah, seorang ulama terkemuka dan ibunya Rafiah. Proses kelahirannya dibantu oleh saudara ibunya Kudi Urai, dia pula yang membantu kelahiran Stan Sjahrir di Padang Panjang, Sembilan tahun kemudian. Rahmah punya seorang kakak, Zainuddin Labay lahir Sabtu 21 Februari 1891. Rahmah diperbolehkan oleh kakaknya ini mendirikan sekolah khusus untuk Muslimah. “Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak,” kata dia pada kakaknya itu. Sebelumnya, sang kakak sudah punya sekolah pula pada 10 Oktober 1915 Diniyah School. Maka masuklah Rahmah ke sekolah itu. Bersamanya juga masuk sejumlah perempuan lain yaitu, Siti Nanisah dari Bulaan Gadang, Banuhampu dan Djawana Basjir yang disapa Upiak Japang, dari Lubuk Alung. Mereka belajar fikih, tasawuf, Bahasa Arab, ilmu falak, sejarah Islam, tauhid dan tafsir. Tak cukup, perlu fikih Perempuan,murid perempuan ini, sungkam bertanya, guru tak menjelaskan pula.

 

Ketika anak Karim Amrullah, yang setelah dewasa disapa Hamka, masuk Diniyah School, saat itu pula Rahmah gelisah, tak lengkap baginya terasa pelajaran di sekolah kakaknya itu. Dalam perspektif fikih, ilmu yang diberikan guru-guru tentang perempuan di sekolah ini, miskin sekali. Atas saran adik kelasnya, Hamka, ia kemudian bersama kawan perempuannya melakukan lest privat kepada Karim Amrullah yang mereka sapa sebagai Inyiak Rasul itu. Mereka datang ke rumah ulama itu di kawasan Gatangan, Padang Panjang.

 

Tapi, pada 15 Mei 1916 Rahmah dinikahkan dengan seorang ulama, Buya Bahauddin Lathif dari Sumpur, dekat Singkarak. Pada 1922 bercerai karena ingin meneruskan perjuangan masing-masing. Pada 1923 ia mendirikan sekolah muslimah pertama di Indonesia.

 

Pascagempa 1926 yang hebat itu, tepatnya Senin 22 Agustus 1927, setelah Shalat Subuh, Rahmah dilepas dengan dada bergemuruh di halaman Diniyah Puteri untuk berlanglang buana di Sumatera dan terus ke Semenanjung mencari dana untuk membangun Kembali sekolahnya. Ia mengayunkan langkah, pergi untuk sesuatu yang secara material belum pasti, namun perempuan ini yakin.

Selama ini, Diniyah telah mengisi cawan kosong dengan Fiqih, Tafsir, Tauhid, Sharaf, Nahu, Adab dan Hadis. Itu dicicil, sepekan 18 jam. Lalu sebelum gempa, ditambah lagi dengan hikmah tasyri, tarikh Islam dan menulis dengan waktu tetap 18 jam setiap pekannya.

 

Rahmah dibantu muridnya antara lain Latifah dari Payakumbuh dan Rasuna Said dari Maninjau, membuat Menyesal School pada 1924. Ini untuk perempuan buta huruf. Sekolah Menyesal, untuk orang-orang yang menyesali kenapa dia selama ini tak sekolah. Ini sekolah menebus kesalahan. Bagi Rahmah, penting untuk mempersempit jurang orang terdidik dan tidak.

 

Kisah Sekolah Menyesal “meletus” ke seluruh Minangkabau, melambung sampai ke meja pengusaha Belanda. Sekolah ini, berakhir karena medio 1926, gempa datang meluluh-lantakan Padang Panjang.

 

Rahmah menolak bantuan berbagai pihak, karena ia punya hutang 100 gulden pada seorang pengusaha demi membangun sekolahnya.

 

“Usul ini amat dihargakan oleh pengurus dan guru-guru sekalianya, akan tetapi buat sementara golongan puteri akan mencoba melayarkan sendiri pencalang ini sampai ke tanah tepi dan manakala kelak tenaga puteri tak snaggup lagi menyelamatkan pencalang itu, maka dengan sepenuh pengharapan akan memohon kembali usul engku-engku sekarang, kepada engku-engku yang menurut kami patut kami menyerahkan pengharapan kami ini.” Inilah jawaban Rahmah atas uluran tangan orang lain. Akibatnya ia dikadukan dan sidang di Landraad.

 

Ia juga menolak ikut campur politik di sekolahnya.”Biarkanlah perguruan ini tetap terasing selama-lamannya dari partai politik, dan tinggalkan ia menjadi urusan dan tanggung jawab orang banyak (umum), yang aliran politiknya bermacam warna dan ragam, tapi yang menanggungnya jawab atasnya. Haruslah mereka itu satu adanya. Inilah pendirian pengurus dan guru-guru dari pengurus kita”.

 

Rahmah menolak bantuan Belanda diminta datang ke markas Belanda di Batavia. Ditawarkan bantuan, Rahmah tidak mau. Seusai gempa, sebenarnya kesempatan baginya untuk menerima campur tangan berbagai pihak, Rahmay justru memilih singgah dari masjid ke masjid di Minangkabau, Sumatera Utara, Aceh dan Riau terus ke Malaysia. Rahmah pulang ke Padang Panjang. Bantuan yang dapat ia pakai untuk membangun sekolahnya. Bahkan pada 1933, Rahmah mendirikan lembaga baru, taman Kanak-kanak Diniyah Puteri. Perguruan itu semakin ramai saja. Dua tahun kemudian, Rahmah di Batavia mendirikan tiga buah sekolah Diniyah yaitu di gang Nangka Kuwitang, Mester Cornelis di Jatinegara dan di Kebun Kacang, Tanah Abang. Berturut-turut didirikan pula di Padang Panjang, Sekolah Tenun, Kulliyyatul Mu’alimat (KMI), sekolah menengah sambungan bagi sekolah guru.

 

Rahmah punya seorang kawan namanya Nona Oliver, guru di Normal School di Guguak Malintang, dekat markas tentara. Oliver adalah guru tari, renang dan senam. Ia salin ilmu guru Belanda itu. Lalu ia ajarkan pula pada peserta didiknya. Rahmah juga belajar pada Engku Sjafei, pendiri Indonesische Nederland School (INS). Di sana ia mempelajari P3K dan kebidanan di rumah Sakit Umum, Kayu Tanam. Bahkan dapat izin praktik. Ia belajar pada dokter Tazar di Kayu Tanam, dokter A Saleh di Bukittinggi, dokter Arifin Payakumbuh dan dokter Rasyidin serta dokter A.Sani di Padang Panjang. Belajar ilmu kebidanan dari, eteknya, kakak ibunya, Kudi Urai, yang seorang bidan. Dirumah doter Rasyidin itulah dibacakan Proklamasi oleh Engku Sjefei. Sampai sekarang, rumahnya masih ada.

 

Di Minangkabau, tokoh perempuan telah membuat Belanda ngilu-ngilu asam. Ruhana Kuddus, Ratna Djuwita, Rahmah El Yunusiyah, Rasuna Said, Sa’adah Alim, Djanewar Djamil, Sjamsidar Jahja serta Ratna Sari. Kecuali, Rahmah, selebihnya adalah wartawati dan atau politikus. Semuanya pejuang kemerdekaan. Sebagian darinya adalah murid dan guru Diniyah. Paling senior tentulah Ruhana Kuddus, sang pemimpin redaksi koran Soenting Melajoe. Semuanya memakai tutup kepala.

Rahmah juga menerima gelar Syaikhah dari Universitas Al Azhar, Mesir pada 1962 saat peresmian Kulliyatul Lil Banat. Rektor Al Azhar, Syekh Abdurrahman Taj pada 1955, datang ke Diniyyah. Pada 1962 itu, Rahmah diundang ke Mesir guna meresmikan fakultas khusus perempuan yang ditiru dari Diniyyah, sekaligus ia naik haji.

 

Pesan-pesan dunia Pendidikan sebenarnya sudah lama ada, di Diniyyah misalnya: “ Janganlah guru-guru mendendam murid-murid yang bersalah atau nakal. Janganlah membicarakan keburukan sikap dan kenakalan seseorang murid kepada murid lain. Berusahalah memperbaiki sikap akhlak murid yang salah dan nakal itu. Kalau murid itu kurang cerdas atau malas, juga adalah tugas guru untuk mencarikan perbaikannya.”

 

Dalam pidato 4 Januari 1969 itu, lengkap semua pedoman di sekolah dan di asrama, ia tutup dengan sebait kalimat: “Tidak ada kerja yang berat, jika kerja itu dilakukan dengan kegembiraan yang didasarkan kesadaran akan nilai kerja itu yang baik dan dibutuhkan oleh agama dan bangsa.”

 

Bully pada peserta didik yang marak sekarang, sangat dilarang oleh Rahmah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *