KOTA Padang diguyur hujan di pagi Senin (14/7/2025). Jalanan ramai, tak seperti hari-hari biasa. Macet mengular di sejumlah ruas jalan.
“Jam berapa sekarang Nak?,” tanya Riki kepada anaknya yang duduk di belakang.
Gaisan yang duduk sambil memagut Ayahnya kemudian bereaksi. Gadis manis yang berangkat sekolah dengan Ayahnya itu lantas melihat jam di tangan kirinya.
“Jam tujuh kurang, Yah,” ujarnya lantang.
Riki lantas mencoba menyalip kendaraan di depannya. Hujan tak dihiraukannya. Karena mantel hujan sudah membantu keduanya agar tak basah.
“Hati-hati Yah, nanti kita jatuh,” kata Gaisan mengingatkan Ayahnya.
Selang beberapa menit kemudian, Riki dan anaknya sampai di gerbang Sekolah Dasar (SD) di kawasan Siteba. Gaisan turun dan menyalami Ayahnya.
“Ayo Ayah antar ke dalam,” kata Riki kepada anaknya.
Riki menggamit tangan Gaisan. Gadis kecil itu nampak ragu-ragu melangkah masuk ke area sekolah barunya itu.
“Tak usah ragu dan cemas, ada Ayah yang menunggu Gaisan nanti,” sebut Riki menguatkan hati anaknya.
Senin ini merupakan hari pertama sekolah. Tahun ajaran baru 2025/2026 dimulai serentak. Setiap anak diantarkan ke sekolah barunya.
Di kawasan Gunung Pangilun juga serupa. Hujan dan macet parah terjadi di kawasan itu. Macet panjang terjadi sejak pukul 06.00 WIB, mulai dari Simpang Lampu Merah Alai hingga depan kampus UBH.
Eriandi, orang tua salah seorang siswa SMAN 3 Padang, mengaku harus mencari cara agar tidak terjebak macet. Lelaki yang berdomisili di Air Dingin, Lubuk Minturun itu harus menghindari macet di kawasan Simpang Tinju Lapai agar lekas sampai di SMAN 3.
“Saya terpaksa menempuh Jalan Khatib Sulaiman dan menuju depan Masjid Syeikh Khatib Al Minangabawi, macet di area itu tidak sepanjang di Simpang Tinju,” ungkapnya.
Eriandi mengaku senang akhirnya bisa mengantarkan anaknya ke sekolah. Selain mampu mengantarkan anaknya tepat waktu, dirinya juga senang dapat melatih skill dan instingnya dalam berkendara.
“Tidak menyangka kalau Padang semacet ini ketika pagi,” sebutnya.
Riki dan Eriandi merupakan gambaran sosok ayah yang berjuang keras mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Kehadiran sosok ayah saat mengantarkan anak ke sekolah merupakan bentuk dukungan moral dan emosional bagi anak. Apalagi ketika anak baru pertama kali menapaki jenjang pertama sekolah.
Menariknya, pada tahun ajaran baru kali ini, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (Kemendukbangga/BKKBN) meluncurkan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Berdasarkan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 Tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang diterbitkan, sangat diharapkan peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini. Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkan kedekatan emosional yang berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesigapan anak dalam menjalani proses belajar.
Pentingnya kehadiran ayah saat pertama masuk sekolah diyakini mampu memberikan dampak luar biasa bagi perkembangan emosional, sosial dan kognitif pada anak. Peran ayah yang selama ini dikenal sebagai pencari nafkah ternyata tidak sampai di situ saja. Akan tetapi ayah adalah figur pendidik, pelindung, teman bermain, dan panutan bagi anak.
Gerakan Ayah Mengantarkan Anak di Hari Pertama Sekolah mendapat dukungan dari Pemko Padang. Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Padang, Nurfirti menyebut, gerakan ini berkontribusi positif bagi perkembangan anak. Kehadiran ayah di hari pertama sekolah merupakan hal baik yang harus terus diterapkan. Apalagi saat ini, figur ayah memang paling dibutuhkan bagi anak.
“Kehadiran orangtua, atau ayah begitu penting, memastikan anaknya sampai di sekolah dengan selamat untuk memulai belajar dengan semangat,”kata Sekdis Pendidikan Kota Padang itu.(“”)






