Budaya  

Kedudukan Ninik Mamak di Dalam Adat Minangkabau

Dalam adat Minangkabau, kedudukan ninik mamak atau datuk menempati posisi yang sangat utama dan mulia.

 

Ia adalah pemimpin kaum atau suku, penjaga adat, pengatur pusako, dan pelindung anak jo kemenakan di dalam nagari.

 

Keberadaannya tidak hanya sebatas simbol, tetapi benar-benar menjadi penentu arah kehidupan dalam keluarga, kaum, dan nagari.

 

Ninik mamak merupakan orang yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, menandakan betapa ia ditempatkan di posisi yang lebih tinggi karena amanah dan tanggung jawab yang besar.

 

Dalam pergaulan adat, ia disebut sebagai orang yang di anjung tinggi, di amba gadang, yaitu seseorang yang diagungkan dan dihormati secara bersama, bukan karena pangkat duniawi, tetapi karena kebijaksanaan dan kemampuannya menjaga keseimbangan hidup masyarakat.

 

Ninik mamak menjadi tampuk jo tangkai dalam nagari, tempat sandaran, tempat berpijak, dan tempat berlindung bagi anak kemenakan dan seluruh kaum.

 

Kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah nasihat yang membawa kebenaran, menjadi pedoman, dan dijadikan suluh dalam kegelapan.

 

Kedudukannya yang tinggi ini menjadikan ninik mamak bukan hanya pemimpin, tetapi juga simbol keutuhan dan kekuatan kaum.

 

Ia menjaga adat agar tetap hidup, memastikan kemenakan tumbuh dengan akhlak dan budi pekerti Sesui dengan Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, serta menjadi penengah dalam setiap perselisihan.

 

Dengan demikian, ninik mamak adalah poros yang mengikat kehidupan sosial, budaya, dan adat dalam masyarakat Minangkabau.

 

Ninik Mamak dalam nagari di ibaratkan dalam pepatah Adat Minangkabau :

 

“Ninik Mamak Nan Gadang Basa Batuah Nan ba pucuk sabana bulek, nan ba urek sabana tunggang, di anjung tinggi di amba gadang, sandi andiko di dalam kampung, tampuk jo tangkai dalam nagari, Ibarat kayu aro basa di tangah padang, Nan badahan cupak jo gantang, nan baranting dahan balabeh, nan babungo rimbun dek adat, nan ba buah kato nan bana, bulih baselo diureknyo bulih basanda di batangnyo, gantungan Cupak Nan Duo, Partamo Cupak Usali Kaduo Cupak Buatan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *