Jalan Dialih Urang Lalu, Cupak Dianjak Urang Manggaleh: Jeritan Hati Anak Nagari Bayang

Suardi Nike, Banmus nagari bayang
Melaporkan pada media ini,telah terjadi pertemuan tokoh masyarakat niniak mamak dan Anggota DPRD Pessel minggu (10/8 /25) Membahas masalah perusakan hutan di Sariak Bayang yang akan Berdampak pada sendi-sendi kehidupan. Begini informasinya.

Bayang-Foto yang terpampang di website ini bukanlah sekadar potret biasa. Ia merekam sebuah momen penting, di mana anak-anak nagari Bayang, para niniak mamak, cerdik pandai, dan tokoh masyarakat berkumpul di sebuah balairung sederhana.

Di antara dinding berwarna kuning pudar dan kibaran bendera merah putih, seorang putra nagari berdiri, menumpahkan keresahan yang menggunung. Kata-katanya mengalir deras, penuh makna, seolah meniti kembali pepatah Minangkabau yang berbunyi, “Jalan dialih urang lalu, cupak dianjak urang manggaleh.”

Pepatah itu kini terasa begitu nyata. Kabupaten Pesisir Selatan, khususnya nagari Bayang, sedang menghadapi ancaman yang datang dari luar, mengikis tatanan adat dan merusak alam yang selama ini mereka jaga. Ancaman itu berawal dari sebuah niat baik yang berujung pada bencana.

Demi pembangunan jalan tembus Pesisir Selatan-Solok, pemerintah provinsi memutihkan kawasan hutan Suaka Alam dan Wisata (SAW) seluas seribu hektar menjadi Areal Penggunaan Lain (APL). Namun, rencana jalan itu berubah haluan, meninggalkan sebidang tanah yang kini menjadi rebutan.

Di sinilah kisah pahit itu dimulai. Seorang pengusaha dari Solok, yang mengaku bernama Syamsir Dahlan, tiba-tiba muncul dan mengklaim lahan yang sudah di-APL-kan tersebut sebagai tanah ulayatnya. Dengan dalih hak atas tanah, ia berhasil mengurus Izin Pemanfaatan Kayu di Hutan Hak (SIPUHH). Ironisnya, izin yang diberikan hanya seluas 50 hektar, tetapi penebangan yang terjadi sudah jauh melampaui batas, mencapai 159 hektar.

Ini bukanlah sekadar angka atau sengketa lahan biasa. Di balik penebangan liar itu, tersembunyi sebuah malapetaka besar yang mengancam nyawa ribuan penduduk Bayang. Kawasan yang dibalak adalah jantung kehidupan alam mereka: daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tangkapan air hulu sungai Batang Bayang.

Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan, kini terancam berubah menjadi pembawa petaka. Para tetua khawatir, di musim hujan, banjir dan banjir bandang akan melanda. Di musim kemarau, kekeringan akan mencekik. Keselamatan kampung yang telah mereka bangun dan pertahankan selama turun-temurun kini dipertaruhkan.

Keresahan ini semakin dalam dengan adanya informasi terbaru dari Dinas SDA-BK. Luas kawasan hutan di hulu sungai Batang Bayang yang sudah di-APL-kan ternyata tidak hanya seribu hektar, melainkan mencapai angka fantastis: 8.476 hektar. Luas ini setara dengan ratusan kali lapangan sepak bola, sebuah lahan yang sangat vital bagi keseimbangan ekosistem dan kehidupan masyarakat.

Di tengah situasi yang genting ini, suara-suara anak nagari mulai menggema. Mereka menyadari bahwa “batang di awak, buah di urang” (pohon di tangan kita, tapi buahnya dinikmati orang lain). Oknum penjarah hutan menikmati keuntungan, sementara risiko bencana ditanggung oleh masyarakat Pesisir Selatan. Mereka pun menyerukan persatuan.

Dari balairung, muncul ide untuk mengadakan Rapat Akbar Anak Nagari Bayang dan Bayu, sebuah musyawarah besar untuk menyatukan sikap dan langkah. Mereka ingin para wakil rakyat yang duduk di kursi terhormat, serta Bupati dan jajarannya, tidak diam. Mereka butuh para pemimpin yang berani bersuara lantang, yang mampu menggebrak meja dan melindungi negerinya.

Meski demikian, langkah-langkah awal telah diambil. Bupati Pesisir Selatan telah mengirim surat kepada Gubernur Sumatera Barat, yang kemudian berlanjut ke Menteri Kehutanan. Tim kehutanan pun telah diturunkan ke lokasi. Namun, bagi masyarakat, ini belumlah cukup. Mereka menanti sebuah “terobosan” nyata, sebuah solusi permanen yang bisa menghentikan kerusakan dan mengembalikan hak mereka atas alam.

Para niniak mamak, dengan penuh harap, menatap masa depan. Mereka tidak ingin kampung mereka “mati hanyuik” (hanyut tak tersisa) karena keserakahan segelintir orang. Bayang, yang dikenal sebagai “negeri pejuang,” tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan terus berjuang, menyatukan kekuatan, dan menyuarakan aspirasi demi keselamatan nagari, demi anak cucu, dan demi warisan alam yang berharga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *