PADANG, – Tetesan air mata, mengiringi kisah heroik, seorang bidan desa di Kabupaten Pasaman. Layaknya seorang bidadari turun ke bumi, berhati mulia. Rela menantang maut, menyeberangi sungai demi menyelematkan pasien
Disaat wanita lain, sibuk memanjakan diri. Pamer kebahagian, berbelanja di mall, berselfi ria, terpajang di medsos. Ia mengabdi di desa yang sunyi. Jauh dari keramaian. Jauh dari keluarga, demi tugas mulia. Tak ada tempat hiburan, mall, gedung tinggi dan jalan mulus. Hanya jalan setapak dikelilingi bukit dan persawahan.
Unggahan Video Bukakan Mata dan Hati
Sebuah video viral, diunggah akun Facebook@/fajarpanomuanramadah, bukakan mata dan hati. Tak terbendung air mata, melihat kisah pilu seorang bidan desa, perempuan berbaju dinas lengkap.
Bertarung diderasnya sungai, menantang bahaya. Tas bergantung dipunggung, membawa peralatan medis, membuat hati teriris
Jembatan gantung menjadi harapan, hancur berantakan. Jalan nekat pun dilakukan, demi menggapai tujuan, mengobati pasien yang butuh perawatan. Baginya, menyelamatkan nyawa lebih penting, daripada memikirkan keselamatan diri sendiri melewati derasnya sungai
Ada pesan moral tersampaikan. Pengabdian, tetap dijalankan, meski menghadapi tantangan dan rintangan. Tanggungjawab harus dijalani, walau akan mencelakan diri sendiri.
Sebuah ketulusan tak berlandaskan materi. Menjadi barang langka sekarang ini. Sementara yang lain, sibuk memperkaya diri
Berbagai Tanggapan Menyertai Perjuangan
Kalaupun viral sekarang ini, itu bukan tujuan seorang bidan yang tulus mengabdikan diri. Ribuan pujian di media sosial, tak menjadi pikiran.
Mungkin ia tak sempat membaca, disebabkan keterbatasan alat komunikasi. Baginya, nyawa harga mati, menyelamatkan pasien yang kritis, meski ditangani segera.
Ia tak ingin kehilangan waktu dan harus berburu dengan waktu. Selembar nyawa, lebih berharga dari segalanya.”Jika seorang bidan harus berenang untuk menyelamatkan satu nyawa, bagaimana dengan yang lain. Ini bukan soal kebutuhan hidup, tapi sistim yang gagal menjamin hak hidup dan aman bagi seluruh warga negara,” tulis seorang aktivitas kesehatan
Ada juga mempertanyakan, dimana tanggungjawab negara. Kenapa masih ada petugas medis yang harus mempertaruhkan keselamatan diri sendiri, demi menyelamatkan pasiennya. Infrastruktur penunjang tugas, terabaikan. Sehingga menyeberangi sungai harus dilakukan. Ironis, peristiwa menyedihkan menyambut hari kemerdekaan






