Goenawan Mohamad adalah seorang jurnalis, penyair, esais, dan tokoh intelektual Indonesia yang lahir pada 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah. Ia dikenal luas sebagai pendiri majalah Tempo, sebuah media yang berpengaruh dalam sejarah jurnalisme Indonesia.
Goenawan dikenal dengan pemikirannya yang tajam, gaya penulisan yang reflektif, serta komitmennya terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia intelektual dan budaya Indonesia pasca-kemerdekaan.
Latar belakang pendidikannya dimulai di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, meskipun ia tidak menyelesaikan studinya di sana. Kemudian, ia memperoleh beasiswa untuk belajar di luar negeri, termasuk di Universitas Leiden, Belanda.
Di awal kariernya, Goenawan telah aktif menulis di berbagai media dan menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Keterlibatannya dalam dunia sastra dimulai sejak tahun 1960-an, dengan menulis puisi, esai, dan kritik sastra.
Pada tahun 1971, Goenawan mendirikan majalah Tempo, yang kemudian menjadi simbol jurnalisme investigatif dan independen di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya Tempo tumbuh menjadi media yang kritis terhadap pemerintah.
Terutama selama rezim Orde Baru. Akibat tulisannya yang berani dan tajam, majalah Tempo beberapa kali dibredel oleh pemerintah. Namun, Goenawan tetap teguh mempertahankan prinsip kebebasan pers, yang menjadikannya sebagai sosok penting dalam perjuangan demokrasi Indonesia.
Selain sebagai jurnalis, Goenawan juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif. Salah satu ciri khasnya adalah kolom “Catatan Pinggir” di majalah Tempo, yang telah diterbitkan sejak tahun 1977.
Dalam kolom tersebut, ia mengulas berbagai isu—politik, seni, budaya, dan filsafat—dengan gaya bahasa yang puitis dan penuh perenungan. Karya-karyanya banyak dibukukan dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, menunjukkan pengaruhnya di kancah internasional.
Atas kontribusinya di bidang sastra, jurnalisme, dan pemikiran, Goenawan Mohamad telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Ia pernah menerima Prince Claus Award dari Belanda, Dan David Prize dari Israel, dan penghargaan dari CPJ (Committee to Protect Journalists) di Amerika Serikat. Hingga kini, Goenawan tetap aktif menulis dan menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda di Indonesia, terutama dalam hal keberanian berpikir dan kebebasan berekspresi.







