Yusma Joyo, S.Pd., M.Pd., bukanlah sosok yang lahir dari gemerlap sekolah unggulan atau panggung prestasi nasional. Pria kelahiran Kambang, 14 Juni 1972, itu justru menempuh jalan sunyi dunia pendidikan: membangun dan merawat sekolah swasta dari nol, dengan ketekunan yang jarang disorot.
Bagi Yusma, pendidikan bukan sekadar jabatan struktural atau simbol keberhasilan institusi. Ia memilih terjun langsung sebagai pendiri, pengurus, sekaligus pengelola sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta di Pesisir Selatan. Sebuah pilihan yang tidak mudah, mengingat membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah swasta memerlukan waktu, konsistensi, dan kualitas yang terjaga.
Berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan, Yusma secara telaten membesarkan sekolah yang dirintisnya. Dari satu sekolah, kini berkembang menjadi tiga SMK yang diminati masyarakat.
Sebuah capaian yang lahir bukan dari kebijakan instan, melainkan proses panjang dan kesabaran dalam membina sumber daya manusia.
Di luar dunia pendidikan formal, Yusma juga aktif dalam peran adat. Ia menjabat sebagai Ketua LKAAM Kecamatan Lengayang dan menyandang gelar adat Rajo Idin dalam Kaum Sikumbang. Sebagai ayah dari lima putra, komitmennya pada pendidikan terasa kian personal—ia melihat masa depan daerah bertumpu pada kualitas generasi mudanya.
Menurut Yusma, pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu bisa dinikmati segera. Banyak hal yang masih perlu dibenahi, mulai dari pemerataan mutu hingga penguatan karakter peserta didik. Namun ia meyakini, anak-anak Pesisir Selatan memiliki potensi intelektual yang tidak kalah bersaing.
Keyakinan itu tercermin dari sejumlah capaian sekolah-sekolah di daerah, salah satunya SMA Negeri 3 Painan yang telah lama diperhitungkan sebagai sekolah unggulan di Sumatera Barat. Bagi Yusma, keberhasilan semacam itu harus menjadi pemantik, bukan pengecualian.
Kini, Yusma Joyo menyatakan kesiapan untuk berbuat lebih luas bagi kemajuan pendidikan di Pesisir Selatan. Ia membawa visi menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama menuju “Pessel Emas”—daerah yang maju bukan hanya secara fisik, tetapi juga matang secara sumber daya manusia.
Di tengah arus pragmatisme, Yusma memilih tetap berdiri di jalur pendidikan. Merawatnya perlahan, dengan keyakinan bahwa masa depan daerah selalu dimulai dari ruang-ruang kelas yang dikelola dengan hati. (Sabana)







